CIREBONPOST — Terlepas dari penurunan harga telur ayam di Pasar Drajat Kota Cirebon dari sekitar Rp30.000/kg menjadi Rp28.000–Rp29.000/kg, pasar tetap tidak memiliki pembeli.
Selain itu, para pedagang mengeluhkan jumlah pengunjung yang rendah, yang berdampak langsung pada penghasilan mereka.
Seorang pedagang sembako di pasar tersebut, Us Kusmayadi, mengatakan penurunan harga telur tidak cukup untuk mendorong pembeli.
Menurutnya, meskipun harga telur turun, mereka pasti akan naik lagi menjelang Lebaran. Sementara harga kebutuhan pokok lain, seperti minyak dan terigu, tetap stabil. Namun, masalahnya bukan harga, tetapi penurunan pembeli.
Maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di trotoar dan di luar area pasar adalah salah satu faktor utama penyebab pasar sepi, menurut Uus.
Mereka dianggap merugikan pedagang pasar yang sudah membayar retribusi atau menyewa kios resmi karena keberadaan mereka.
“Mereka yang menjual di pinggir jalan itu merusak pasar. Mereka tidak bayar sewa tempat seperti kami, tapi mereka bisa menjual dengan harga lebih murah karena biaya operasional mereka lebih rendah. Ini tentu membuat banyak pembeli memilih belanja di luar pasar,” katanya.
Pedagang Minta Pemkot Tegas
Menurut Romy Arief, Ketua DPD Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon, kondisi ini terjadi di hampir semua pasar tradisional kota, termasuk Pasar Drajat.
Menurut Anda, pemerintah kota belum menunjukkan kepedulian yang jelas terhadap pasar?pedagang pasar resmi.
Istilah “pemkot harus lebih serius dalam menata tata ruang perkotaan dan melindungi pasar?”pedagang pasar konvensional. Pedagang di dalam pasar secara resmi membayar sewa kios dan retribusi, sementara pedagang di luar pasar dapat menjual barang dengan harga lebih murah. Dia menegaskan bahwa ini tidak adil.
Romy menekankan bahwa pemerintah harus segera menertibkan PKL yang menjual barang dagangan mereka di luar area pasar tanpa izin resmi.
Semua orang memiliki hak untuk mencari nafkah, tetapi ada aturan yang harus dipatuhi. Dia menyatakan bahwa jika kami harus membayar sewa atau membeli kios sementara mereka cukup membayar retribusi kecil dan dapat menjual lebih murah, ini jelas merugikan kami.
Selain itu, Romy menekankan program operasi pasar pemerintah sebagai bagian dari upaya stabilisasi harga.
Menurutnya, karena harga operasi pasar jauh lebih murah daripada harga pasar, program tersebut seringkali menguntungkan pedagang pasar konvensional.
Menurutnya, operasi pasar adalah kebijakan yang bagus, tetapi pedagang pasar harus disosialisasikan dan dididik terlebih dahulu untuk menghindari mengurangi keuntungan mereka.
Penurunan Jumlah Pedagang Hingga 50%
Romy juga mengatakan bahwa karena tidak ada pembeli, lebih sedikit pedagang di pasar.
Menurutnya, “Hampir 50% pedagang di pasar sudah berkurang. Ini menunjukkan bahwa omzet di pasar semakin sepi. Jika pasar ramai, pasti pedagang akan bertambah, bukan malah berkurang.”
Selain itu, dia meminta Pemerintah Daerah dan Direktur Pasar untuk segera mengambil tindakan nyata untuk menata pedagang di luar pasar.
SUMBER KABARCIREBON.PIKIRAN-RAKYAT.COM : Pasar Drajat Kota Cirebon Sepi Pengunjung, Pedagang Soroti Keberadaan PKL dan Kebijakan Pemkot