
Jakarta – Peradangan merupakan bagian dari respons alami tubuh. Namun, jika inflamasi berlangsung terus-menerus atau muncul tanpa penyebab yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Salah satu hal yang dapat dievaluasi adalah pola makan sehari-hari.
Banyak orang hanya mengaitkan makanan pemicu inflamasi dengan makanan manis atau produk yang mengandung bahan pengawet. Padahal, beberapa makanan yang cukup sering dikonsumsi sehari-hari juga berpotensi mendorong peradangan, terutama jika disantap berlebihan atau diolah dengan cara tertentu.
Dikutip dari Times of India, berikut beberapa makanan yang perlu diperhatikan.
1. Makanan yang Digoreng
Kentang goreng dan berbagai camilan yang dimasak menggunakan suhu tinggi dapat menghasilkan advanced glycation end products (AGEs). Senyawa tersebut berkaitan dengan minyak yang mengalami oksidasi dan dapat meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh.
Ketika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, respons inflamasi juga dapat meningkat. Sebagai gambaran, dalam setiap 100 gram kentang goreng terdapat sekitar 312 kalori.
2. Roti dan Nasi Putih
Produk berbahan biji-bijian yang telah melalui proses pemurnian, seperti roti putih dan nasi putih, kehilangan sebagian serat alaminya.
Akibatnya, makanan tersebut lebih cepat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Jika lonjakan gula darah terjadi berulang kali, tubuh dapat memberikan respons insulin yang lebih besar dan kondisi ini berpotensi berkontribusi terhadap proses peradangan.
3. Daging Merah
Daging merah tetap dapat menjadi sumber protein dan nutrisi. Namun, jumlah serta metode memasaknya perlu diperhatikan.
Konsumsi daging merah secara berlebihan, terlebih jika dimasak hingga terlalu matang atau gosong, dapat menghasilkan senyawa tertentu yang berpotensi memicu respons peradangan.
Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada daging yang sering dibakar hingga permukaannya menghitam.
4. Keripik Kentang dan Wafer
Camilan kemasan seperti keripik kentang dan wafer memang praktis serta memiliki tekstur yang disukai banyak orang. Namun, beberapa produk dapat mengandung lemak trans dan akrilamida.
Senyawa tersebut dapat memengaruhi respons sistem imun. Jika makanan semacam ini dikonsumsi terlalu sering, dampaknya dapat berkontribusi terhadap proses inflamasi yang berlangsung dalam jangka panjang.
5. Keju
Keju juga termasuk makanan yang perlu dikonsumsi dengan memperhatikan porsinya. Beberapa jenis produk keju mengandung lemak jenuh cukup tinggi dan dapat menggunakan bahan tambahan seperti emulsifier.
Pada orang tertentu, konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan sensitivitas atau memperburuk kondisi peradangan yang sudah ada.
Bukan berarti keju harus sepenuhnya dihindari. Jumlah dan frekuensi konsumsinya tetap menjadi faktor penting.
6. Minyak Sayur Olahan
Minyak bunga matahari dan canola merupakan contoh minyak yang mengandung asam lemak omega-6 cukup tinggi. Omega-6 sendiri tetap merupakan jenis lemak yang dibutuhkan tubuh, tetapi keseimbangan asupannya dengan omega-3 juga perlu diperhatikan.
Jika asupan omega-6 jauh lebih dominan dibandingkan omega-3, pola tersebut dapat mendorong kondisi tubuh ke arah proinflamasi.
Minyak juga memiliki kandungan energi yang tinggi, yakni sekitar 884 kalori per 100 gram. Karena itu, penggunaannya sebaiknya tetap dalam jumlah yang wajar.
7. Teh atau Kopi dengan Camilan Manis
Teh dan kopi sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Hal yang perlu diperhatikan justru makanan pendampingnya.
Kebiasaan menikmati minuman tersebut bersama kue atau biskuit yang tinggi gula dapat memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam usus. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan peradangan pada jaringan lemak.
Karena itu, jika ingin menikmati teh atau kopi, pilih pendamping yang lebih bernutrisi dan tidak tinggi gula.
Pada dasarnya, makanan-makanan di atas tidak otomatis menjadi penyebab peradangan hanya karena dikonsumsi. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh porsi, frekuensi, serta cara pengolahannya.
Menerapkan pola makan yang beragam dan seimbang, sekaligus membatasi makanan yang tinggi gula, lemak tertentu, dan hasil pengolahan berlebihan, dapat menjadi langkah untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
