
Jakarta – Air fryer semakin populer karena dianggap mampu menghasilkan makanan renyah dengan penggunaan minyak yang jauh lebih sedikit. Namun, belakangan muncul anggapan bahwa alat masak ini dapat meningkatkan risiko kanker. Lantas, benarkah klaim tersebut?
Menurut informasi yang dirangkum dari WebMD, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan air fryer secara langsung menyebabkan kanker. Justru, dalam beberapa kondisi, alat ini dapat menghasilkan senyawa berbahaya dalam jumlah lebih rendah dibandingkan metode menggoreng konvensional.
Cara Kerja Air Fryer
Air fryer memasak makanan dengan memanfaatkan sirkulasi udara panas berkecepatan tinggi. Makanan ditempatkan di dalam keranjang berlubang, kemudian udara panas berputar mengelilinginya hingga menghasilkan tekstur renyah menyerupai makanan yang digoreng.
Karena tidak membutuhkan banyak minyak, air fryer menjadi pilihan praktis untuk mengolah berbagai jenis makanan, mulai dari kentang goreng, ayam, sayuran, hingga makanan beku seperti nugget dan pizza. Bahkan beberapa tipe juga memiliki fitur memanggang dan memanaskan ulang makanan.
Mengurangi Penggunaan Minyak
Salah satu alasan air fryer digemari adalah kemampuannya mengurangi penggunaan minyak saat memasak.
Berbeda dengan metode deep frying yang membuat makanan terendam minyak panas sehingga menyerap banyak lemak, air fryer hanya membutuhkan sedikit minyak atau bahkan tidak sama sekali, tergantung jenis bahan yang dimasak.
Kondisi tersebut membantu menekan asupan lemak dan kalori dibandingkan makanan yang digoreng secara tradisional.
Bagaimana dengan Risiko Akrilamida?
Saat makanan yang kaya pati, seperti kentang, dipanaskan pada suhu tinggi, dapat terbentuk senyawa bernama akrilamida.
Akrilamida muncul akibat reaksi antara gula alami dan asam amino ketika terkena panas tinggi. Dalam beberapa penelitian, paparan akrilamida dalam jumlah besar dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker sehingga sering menjadi perhatian para ahli.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan air fryer justru menghasilkan kadar akrilamida yang lebih rendah dibandingkan proses menggoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak.
Hal ini terjadi karena makanan tidak direndam di dalam minyak panas, sehingga pembentukan senyawa tersebut cenderung lebih sedikit.
Tetap Menggunakan Suhu Tinggi
Meski demikian, air fryer tetap memasak menggunakan suhu tinggi yang bisa mencapai lebih dari 200 derajat Celsius.
Artinya, proses pembentukan senyawa akibat pemanasan tetap mungkin terjadi. Hanya saja, kadarnya umumnya lebih rendah dibandingkan metode deep frying.
Karena itu, penggunaan suhu dan waktu memasak yang tidak berlebihan tetap disarankan agar makanan tidak terlalu gosong.
Air Fryer Bukan Penentu Makanan Sehat
Para ahli mengingatkan bahwa kesehatan makanan tidak hanya ditentukan oleh alat yang digunakan.
Jika bahan makanan tinggi gula, garam, atau lemak jenuh, hasil akhirnya tetap belum tentu menjadi pilihan yang sehat meskipun dimasak menggunakan air fryer.
Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa air fryer dapat menyebabkan kanker. Sebaliknya, bila digunakan dengan benar dan dipadukan dengan bahan makanan bergizi, alat ini justru bisa menjadi alternatif memasak yang lebih sehat dibandingkan menggoreng secara konvensional.
