Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya tidur nyenyak, tiba-tiba ada orang yang nendang pintu kamar kamu kencang banget sampai bikin jantung copot? Nah, bayangkan kalau "nendang pintu" itu dilakukan oleh bumi dalam bentuk gempa bumi. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Itulah yang dirasakan saudara-saudara kita di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sampai detik ini, sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di sana masih memilih buat "pindah kantor" sementara ke perbukitan, bukan karena mau liburan atau menikmati pemandangan ala pegunungan Alpen, tapi karena mereka dihantui oleh memori buruk yang belum juga hilang.
Kalau kita bicara soal trauma, bayangkan seperti seseorang yang pernah kena ghosting parah oleh gebetan yang paling disayang. Begitu ada orang baru yang chat dengan nada mirip, insting pertahanan diri kita langsung teriak, "Awas, jangan percaya dulu!" Nah, bagi warga di Kecamatan Pasimarannu, gempa Flores dengan kekuatan magnitudo 7,0 itu adalah "gebetan toksik" yang bikin mereka jadi super waspada. Mereka bukannya lebay atau nggak mau pulang ke rumah, tapi luka dari kejadian Desember 2021 lalu masih terasa sangat nyata.
Trauma Itu Seperti ‘Ghosting’ yang Belum Sembuh
Kalian mungkin bertanya, "Kok bisa sih, sampai segitunya?" Harus diingat, pada tahun 2021, gempa magnitudo 7,4 yang berpusat di Flores itu nggak main-main. Rumah-rumah di Selayar banyak yang ambruk rata dengan tanah, hancur lebur kayak hati kamu pas tahu dia jadian sama orang lain. Ingatan tentang rumah yang roboh dan tanah yang berguncang itu tertanam kuat di memori bawah sadar warga.
Menurut Muhammad Ikbal, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar, keputusan warga untuk tetap bertahan di perbukitan adalah bentuk mekanisme pertahanan diri. Mereka melakukan apa yang disebut sebagai pengungsian mandiri. Begitu bumi berguncang sedikit saja, otak mereka otomatis memberikan perintah: "Lari ke tempat tinggi!" Ini mirip banget sama sistem auto-save di game open-world yang langsung aktif begitu kita masuk ke area berbahaya. Mereka nggak nunggu instruksi, karena bagi mereka, keselamatan nyawa itu nomor satu, di atas kenyamanan kasur empuk di rumah sendiri.
Ritual Sore yang Penuh Kecemasan
Ada pola unik yang terjadi di sana. Bayangkan kamu punya dua rumah: rumah asli yang nyaman tapi rawan, dan tenda darurat di bukit yang aman tapi jauh. Sebagian warga di Pasimarannu ternyata melakukan "ritual" unik setiap hari. Siang hari, mereka turun gunung buat beraktivitas, nengok rumah, atau sekadar memastikan kalau barang-barang mereka masih aman. Tapi, begitu matahari mulai tenggelam dan suasana jadi temaram—saat di mana ketakutan akan gempa susulan di malam hari terasa paling mencekam—mereka akan kembali mendaki menuju perbukitan.
Jaraknya? Bukan cuma nyebrang jalan, tapi sekitar tujuh kilometer. Bayangkan kamu harus jalan kaki atau naik motor sejauh itu setiap sore, demi tidur dengan tenang. Itu adalah perjuangan yang luar biasa melelahkan. Bagi mereka, tidur di bukit adalah satu-satunya cara supaya bisa memejamkan mata tanpa harus terjaga setiap kali ada suara ranting pohon patah yang dikira gempa susulan. Kamu bisa cek lebih lanjut tentang bagaimana cara mengelola stres saat bencana agar kita juga lebih paham bagaimana menjaga kesehatan mental di kondisi darurat seperti ini.
Tantangan Logistik: Menantang Lautan demi Bertahan Hidup
Sekarang, coba bayangkan posisi tim BPBD Selayar. Mereka ini seperti kurir paket yang harus mengirim barang ke pelosok, tapi jalannya bukan aspal mulus, melainkan lautan lepas yang kadang galak. Untuk sampai ke lokasi terdampak, mereka harus menempuh perjalanan laut selama 12 jam. Itu bukan waktu yang sebentar, lho. Kalau kamu nonton film maraton, itu bisa habis sekitar 6-8 film layar lebar.
Selama ini, kebutuhan logistik warga masih banyak dipenuhi secara mandiri. Ini membuktikan betapa tangguhnya warga Selayar. Mereka nggak cuma menunggu bantuan turun dari langit, tapi mereka bahu-membahu saling menjaga. Ini adalah bentuk gotong royong yang sebenarnya, yang mungkin sudah jarang kita temukan di hiruk-pikuk kota besar yang serba individualis.
Bukan Cuma Soal Rumah, Tapi Soal Perasaan
Walaupun secara statistik BPBD mencatat "cuma" ada 13 rumah yang rusak (9 rusak ringan dan 4 rusak sedang), angka ini mungkin terlihat kecil kalau dibandingkan dengan bencana besar lainnya. Tapi, bagi mereka yang rumahnya terdampak, kerusakan sekecil apa pun adalah trauma yang besar. Apalagi di Kecamatan Pasilambena, di mana air laut sempat "menyapa" permukiman warga setelah guncangan hebat. Perahu nelayan pun ada yang terseret ke daratan, seolah-olah laut sedang marah dan ingin ikut campur dalam urusan daratan.
Kabar baiknya, sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka yang serius. Tapi, apakah itu berarti situasinya aman-aman saja? Tentu tidak. Trauma adalah musuh yang tak terlihat. Ia tidak meninggalkan bekas luka di kulit, tapi ia meninggalkan bekas yang dalam di pikiran. Ketika seseorang bilang "saya trauma," itu bukan berarti mereka manja. Itu berarti mereka butuh waktu dan rasa aman untuk bisa kembali "pulang".
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Saudara Kita di Selayar?
Melihat fenomena di Selayar, kita jadi belajar satu hal penting: kesiapsiagaan bencana itu bukan cuma soal punya stok mie instan di rumah atau punya tas siaga bencana. Itu adalah soal bagaimana kita membangun mental yang siap menghadapi kondisi terburuk. Warga Selayar sudah membuktikan bahwa mereka punya insting yang tajam. Mereka tahu kapan harus bertahan dan kapan harus bergerak.
Dalam dunia digital yang penuh dengan distraksi, kadang kita lupa untuk mendengarkan "insting" kita sendiri. Kita terlalu sibuk dengan scrolling media sosial sampai lupa kalau lingkungan di sekitar kita bisa berubah kapan saja. Apa yang terjadi di Selayar adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa alam punya cara sendiri untuk "berbicara", dan terkadang bahasanya sangat kasar.
Jika kamu ingin tahu lebih dalam mengenai tips tanggap bencana di wilayah kepulauan, kamu bisa baca artikel kami lainnya yang mengulas tentang langkah praktis saat terjadi guncangan hebat di wilayah pesisir. Pengetahuan adalah senjata terbaik untuk melawan rasa takut.
Kesimpulan: Kenapa Kita Harus Peduli?
Jadi, kenapa kita harus peduli dengan 50 KK yang masih bertahan di bukit itu? Karena mereka adalah cerminan dari kemanusiaan. Di tengah dunia yang makin egois, melihat orang-orang yang tetap bertahan hidup dengan segala keterbatasan demi keselamatan keluarga adalah sebuah pelajaran hidup yang mahal. Mereka tidak butuh dikasihani, mereka butuh dipahami.
Trauma itu seperti noda kopi di baju putih. Susah hilang, tapi bisa dibersihkan kalau kita punya waktu dan kesabaran. Semoga teman-teman kita di Selayar segera mendapatkan rasa aman yang mereka cari, sehingga bukit-bukit itu tidak lagi menjadi tempat persembunyian dari ketakutan, melainkan hanya tempat mereka menikmati matahari terbenam dengan damai.
Sampai saat ini, proses pemulihan masih terus berjalan. Pemerintah, relawan, dan warga lokal terus berkoordinasi untuk memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus tidur di bawah bintang-bintang karena takut rumahnya akan ambruk. Dan bagi kita yang jauh dari lokasi, kiriman doa dan kepedulian adalah hal terkecil namun paling berarti yang bisa kita berikan. Tetap waspada, tetap saling jaga, dan jangan lupa untuk selalu menghargai setiap detik keamanan yang kita miliki saat ini. Karena di dunia ini, tidak ada yang lebih berharga daripada tidur nyenyak di rumah sendiri dengan perasaan aman di dalam hati.
