
Jakarta – Suka makanan pedas? Kebiasaan menikmati cabai ternyata berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan jantung. Namun, bukan berarti semakin pedas maka semakin baik.
Cabai selama ini lebih dikenal sebagai bahan makanan yang memberikan sensasi panas dan meningkatkan selera makan. Di balik rasa pedas tersebut, terdapat senyawa aktif bernama capsaicin yang banyak diteliti karena potensinya terhadap kesehatan pembuluh darah.
Salah satu penelitian yang dilakukan di Sichuan, China, melihat hubungan antara frekuensi konsumsi makanan pedas dengan kesehatan jantung. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 54.859 orang dewasa.
Hasil analisis menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan pedas sebanyak 6-7 kali dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit jantung iskemik. Kondisi tersebut terjadi ketika aliran darah menuju jantung terganggu, salah satunya akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah.
Kebiasaan mengonsumsi cabai juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit serebrovaskular dan stroke iskemik.
Capsaicin Jadi Senyawa Penting
Menurut laporan Earth, manfaat cabai tersebut tidak terlepas dari kandungan capsaicin. Senyawa inilah yang menghasilkan sensasi panas ketika cabai dikonsumsi.
Capsaicin diketahui dapat memengaruhi produksi nitric oxide atau nitrogen monoksida dalam tubuh. Senyawa tersebut berperan dalam membantu melebarkan dan merelaksasi pembuluh darah.
Ketika pembuluh darah lebih rileks, sirkulasi darah dapat berjalan lebih lancar dan tekanan darah berpotensi lebih terkontrol. Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu mengurangi beban kerja jantung.
Manfaat cabai terhadap kesehatan jantung juga didukung oleh sejumlah penelitian sebelumnya.
Studi yang dilakukan di China dengan data periode 2004-2013 menemukan bahwa orang yang mengonsumsi cabai sebanyak enam hingga tujuh kali dalam seminggu memiliki risiko kematian yang lebih rendah sekitar 14%.
Penelitian lain di Italia juga menemukan hasil serupa. Konsumsi cabai lebih dari empat kali dalam sepekan dikaitkan dengan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.
Menariknya, hubungan tersebut tetap terlihat meskipun pola makan para peserta tidak secara khusus mengikuti diet Mediterania.
Bukan Berarti Harus Makan Super Pedas
Meski sejumlah penelitian menunjukkan hasil positif, cabai tetap tidak bisa dianggap sebagai obat untuk mencegah penyakit jantung.
Para peneliti menegaskan bahwa sebagian besar temuan tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian hanya menemukan adanya hubungan antara kebiasaan makan pedas dan kondisi kesehatan, bukan membuktikan bahwa cabai secara langsung menyebabkan risiko penyakit jantung menjadi lebih rendah.
Selain itu, manfaat yang diamati tidak berarti seseorang harus mengonsumsi cabai dalam jumlah berlebihan atau memilih makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem.
Menggunakan cabai sebagai bumbu dalam masakan sehari-hari dengan tingkat kepedasan yang masih nyaman bagi tubuh sudah cukup menjadi bagian dari pola makan sehat.
Jika setelah makan pedas tubuh justru mengalami gangguan seperti nyeri lambung atau masalah pencernaan, sebaiknya jumlahnya disesuaikan.
Ke depan, para peneliti masih perlu menggali lebih dalam bagaimana capsaicin memengaruhi tekanan darah, kadar kolesterol, serta fungsi pembuluh darah dalam jangka panjang.
Jadi, bagi pencinta makanan pedas, konsumsi cabai dalam jumlah wajar bisa menjadi salah satu bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan jantung. Namun, manfaat tersebut tetap perlu didukung dengan pola makan bergizi, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
