
Jakarta – Daging babi sering menjadi bahan makanan yang menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, daging ini menyediakan protein dan sejumlah zat gizi penting. Di sisi lain, cara pengolahan serta tingkat kematangannya perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi keamanan pangan dan kesehatan.
Seperti jenis daging lainnya, nilai gizi daging babi dapat berbeda tergantung bagian yang dipilih. Potongan yang lebih rendah lemak dapat menjadi sumber protein dalam pola makan seimbang, sedangkan konsumsi berlebihan terhadap daging berlemak maupun produk olahan perlu dibatasi.
Lantas, apa saja manfaat dan risiko yang perlu diketahui sebelum mengonsumsi daging babi? Berikut penjelasannya seperti dikutip dari EatingWell.
1. Menyediakan Protein untuk Tubuh
Salah satu keunggulan daging babi adalah kandungan proteinnya. Dalam sekitar 85 gram daging babi matang, terdapat kurang lebih 23 gram protein berkualitas tinggi.
Protein diperlukan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk mempertahankan massa dan kekuatan otot. Asupan protein yang mencukupi juga dapat membantu memberikan rasa kenyang setelah makan.
Hal ini menjadi semakin penting seiring bertambahnya usia karena massa otot cenderung berkurang. Asupan protein yang cukup dapat menjadi salah satu bagian dari upaya mempertahankan kondisi otot dan mencegah kehilangan massa otot secara berlebihan.
2. Mengandung Beragam Vitamin dan Mineral
Selain protein, daging babi juga menyumbang sejumlah vitamin dan mineral. Beberapa di antaranya adalah vitamin B12, zinc, selenium, tiamin, niasin, dan vitamin B6.
Vitamin B12 dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah serta membantu menjaga fungsi sistem saraf. Sementara zinc dan selenium memiliki berbagai peran dalam menjaga fungsi tubuh.
Daging babi juga mengandung kolin. Nutrisi ini berperan dalam fungsi sel serta perkembangan otak dan sistem saraf.
Bagi ibu hamil dan menyusui, kebutuhan nutrisi meningkat sehingga sumber kolin dan zat gizi lainnya perlu diperoleh dari beragam makanan. Namun, jumlah dan pilihan makanan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
3. Pilihan Potongan Daging Bisa Memengaruhi Kesehatan Jantung
Tidak semua daging babi memiliki kandungan lemak yang sama. Beberapa bagian yang lebih rendah lemak, seperti tenderloin atau sirloin tanpa tulang, dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan potongan yang tinggi lemak.
American Heart Association memasukkan beberapa potongan daging babi tanpa lemak ke dalam pilihan protein yang dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat.
Yang perlu diperhatikan adalah porsi, jenis potongan, serta cara memasaknya. Daging yang rendah lemak dan dimasak dengan cara yang lebih sehat tentu berbeda dampaknya dengan daging yang digoreng atau disajikan bersama banyak garam dan lemak.
4. Daging Mentah atau Kurang Matang Bisa Membawa Risiko Infeksi
Salah satu hal yang paling penting dalam mengonsumsi daging babi adalah memastikan daging dimasak hingga matang dengan aman.
Daging babi mentah atau kurang matang dapat menjadi sumber parasit maupun mikroorganisme penyebab penyakit. Salah satu infeksi yang berkaitan dengan konsumsi daging terkontaminasi adalah trikinosis yang disebabkan oleh parasit Trichinella.
Karena itu, daging sebaiknya dimasak dengan suhu internal yang aman dan tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah atau kurang matang.
Risiko kontaminasi juga dapat dikurangi dengan menjaga kebersihan tangan, peralatan masak, serta memisahkan daging mentah dari makanan yang siap disantap.
5. Produk Olahan Perlu Lebih Dibatasi
Bacon, sosis, ham, dan berbagai produk olahan dari daging babi memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda dengan daging babi segar.
Produk tersebut umumnya dapat mengandung garam dan lemak dalam jumlah cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, pola makan tinggi daging olahan dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, memilih daging segar dengan potongan rendah lemak dan mengonsumsinya dalam jumlah wajar dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
Jadi, Apakah Daging Babi Berbahaya?
Daging babi tidak otomatis menjadi makanan yang berbahaya. Sama seperti sumber protein hewani lainnya, manfaat dan risikonya sangat dipengaruhi oleh jenis daging, ukuran porsi, frekuensi konsumsi, serta cara pengolahan.
Untuk mendapatkan pilihan yang lebih sehat, pilih potongan yang lebih rendah lemak, perhatikan porsinya, dan hindari konsumsi produk daging olahan secara berlebihan.
Yang tidak kalah penting, pastikan daging babi dimasak hingga mencapai suhu yang aman untuk mengurangi risiko infeksi dari parasit maupun mikroorganisme berbahaya.
